Selasa, 08 November 2022
BEDAQUIZ ( BELAJAR MENYENANGKAN DENGAN APLIKASI QUIZIZ )
Kamis, 10 Maret 2022
Koneksi Antar Materi Modul 3.2
Koneksi
Antar Materi Modul 3.2 Pemimpin Pembelajaran Dalam Pengelolaan Sumber Daya
OLEH
NURHAYATI,S.Pd
Pemimpin
Pembelajaran dalam Pengelolaan Sumber Daya dan bagaimana mengimplementasikannya
Ekosistem merupakan
sebuah system lingkungan dimana terjadi interaksi atau hubungan timbal balik
atau saling ketergantungan antara komponen dalam ekosistem, yaitu dalam hal ini
adalah komponen biotik yaitu unsur yang hidup dan komponen abiotik, yaitu unsur
yang tidak hidup dalam sebuah lingkungan.
Jika diibaratkan sebagai
sebuah ekosistem, sekolah adalah sebuah bentuk interaksi antara faktor biotik
(unsur yang hidup) dan abiotik (unsur yang tidak hidup). Kedua unsur ini saling
berinteraksi satu sama lainnya sehingga mampu menciptakan hubungan yang selaras
dan harmonis. Dalam ekosistem sekolah, faktor-faktor biotik akan saling
memengaruhi dan membutuhkan keterlibatan aktif satu sama lainnya. Faktor-faktor
biotik yang ada dalam ekosistem sekolah di antaranya adalah:Murid, Kepala
Sekolah, Guru, Staf/Tenaga Kependidikan, Pengawas Sekolah, Orang Tua dan
Masyarakat sekitar sekolah. Selain faktor-faktor biotik yang sudah disebutkan,
faktor-faktor abiotik yang juga berperan aktif dalam menunjang keberhasilan
proses pembelajaran di antaranya adalah: Keuangan dan Sarana dan prasarana.
Dengan mengetahui
sumberdaya yang ada di sekolah, dan menyadari dua komponen penting dalam
ekosistem sekolah, maka sebagai pemimpin pembelajaran harus bisa memetakan 7
aset atau modal utama dalam sekolah dan tugas sebagai pemimpin adalah bagaimana
mengelola ketujuh aset sekolah atau sumber daya tersebut untuk kepentingan dan
kemajuan sekolah. 7 aset atau sumber daya sekolah tersebut antara lain:
- Modal
Manusia
- Modal
Fisik
- Modal
Sosial
- Modal
Finansial
- Modal
Politik
- Modal
Lingkungan/ Alam
- Modal
Agama dan budaya
Ada dua pendekatan
berfikir dalam pengelolaan asset:
- Pendekatan
berbasis kekurangan/masalah (Deficit-Based Thinking) akan
melihat dengan cara pandang negatif. memusatkan perhatian kita pada
apa yang mengganggu, apa yang kurang, dan apa yang tidak bekerja.
- Pendekatan
berbasis aset (Asset-Based Thinking)adalah memusatkan pikiran pada
kekuatan positif, pada apa yang bekerja, yang menjadi inspirasi, yang
menjadi kekuatan ataupun potensi yang positif.
Dalam pengelolaan asset
di sekolah, sebagai pemimpin pembelajaran harus menerapkan pemikiran yang
berbasis asset atau asset based thinking.
Apa pentingnya berfikir
berbasis asset?
·
Dengan berfikir berbasis aset maka kita bisa fokus
pada asset atau kekuatan, merangsang proses berpikir, merangsang otak ke arah
kemajuan dan solusi, jika berfikir berbasis kekurangan, maka sebaliknya akan
menghambat proses kemajuan, sehingga memunculkan banyak peluang, membuka jalan,
membuka banyak kesempatan dan kekuatan sehingga apa yang kita inginkan bisa
tercapai.
·
Dengan berfikir berbasis aset maka kita bisa membayangkan masa
depan, dengan berorientasi atau membayangkan masa depan itulah maka akan banyak
membuka kesempatan dan peluang untuk mewujudkan masa depan yang kita inginkan.
Dengan berfokus pada masa depan, melihat potensi yang ada, apa yang sudah
berkembang dan apa yang sudah berjalan
·
Dengan berpikir berbasis aset maka kita bisa berfikir tentang
kesuksesan yang telah diraih, sehingga kita fokus untuk belajar dari
kesusksesan yang telah diraih, memaksimalkan potensi yang ada untuk meraih
kesuksesan selanjutnya.
·
Dengan berfikir berbasis aset maka kita bisa
mengorganisasikan kompetensi dan sumber daya
·
Dengan berfikir berbasis aset maka kita bisa merancang
rencana berdasarkan visi dan dan kekuatan
·
Dengan berfikir berbasis aset maka kita bisa mewujudkan
rencana aksi yang sudah diprogramkan
Dengan berpikir
berbasis aset, kita mengembangkan potensi sekolah, sebagai penguatan
tentang bagaimana mengelola aset sekolah, berusaha memunculkan kekuatan pada
asset-aset yang ada. Dengan selalu berpikir positif, berbasis pada kekuatan
yang ada, apa yang sudah berjalan maka kita bisa memaksimalkan potensi yang ada
dan bisa memajukan kemajuan sekolah
Jadi dengan berfikir
berbasis pada asset maka kita akan bisa fokus pada asset atau kekuatan,
sehingga bisa membayangkan masa depan, kita pun akan berfikir tentang
kesuksesan yang telah diraih, dan kita akan bisa mengorganisasikan kompetensi
dan sumber daya dan kita akan bisa merancang rencana berdasarkan visi dan dan
kekuatan serta bisa mewujudkan rencana aksi yang sudah diprogramkan
“Seorang pemimpin
pembelajaran harus bisa mengelola asset yang ada dengan pendekatan positif agar
bisa memanfaatkan asset yang ada untuk kepentingan pembelajaran yang
berkualitas, sehingga bisa mewujudkan siswa yang selamat dan bahagia“
Dengan modul 3.2
mengarahkan seorang guru sebagai pemimpin pembelajaran harus selalu berpikir
positif.untuk bisa mengembangkan potensi sekolah.
Menurut Green dan Haines
(2002) dalam Asset building and community development, ada 7
aset utama atau di dalam buku ini disebut sebagai modal utama, yaitu:Modal
Manusia, Modal Sosial, Modal Fisik, Modal
Lingkungan/alam, Modal Finansial, Modal PolitiK, Modal
Agama dan budaya.
Asset-Based Community
Development (ABCD) atau kita sebut dengan Pengembangan Komunitas Berbasis
Aset (PKBA) merupakan suatu kerangka kerja yang dikembangkan oleh John McKnight
dan Jody Kretzmann, yang suatu pendekatan yang menitikberatkan pada kemampuan,
pengalaman, pengetahuan, dan hasrat yang dimiliki oleh anggota komunitas, yang
dijadikan sebagai kekuatan untuk maju dan berkembang.
Pendekatan Pengembangan
Komunitas Berbasis Aset (PKBA) menekankan pada:
·
Usaha mendorong komunitas untuk dapat memberdayakan aset yang
dimilikinya serta membangun keterkaitan dari aset-aset tersebut agar menjadi
lebih berdaya guna.
·
Kemandirian dari suatu komunitas untuk dapat menyelesaikan
tantangan yang dihadapinya dengan bermodalkan kekuatan dan potensi yang ada di
dalam diri mereka sendiri, dengan demikian hasil yang diharapkan akan lebih
berkelanjutan.
·
Aset atau berfokus pada potensi aset/sumber daya yang
dimiliki oleh sebuah komunitas.
·
Gerakan seluruh pihak yang ada di dalam sebuah komunitas atau
disebut sebagai community-driven development.
2. SINTESIS BERBAGAI
MATERI
A. Modul 1.1
Nilai Filosofi Ki Hadjar Dewantara
Modul 1.1 tentang sumber
daya manusia yaitu murid itu sendiri, sebagai pemimpin pembelajaran maka kita
harus mendidik siswa semaksimal mungkin sesuai filosofi Ki Hadjar agar siswa
bisa berkembang sesuai kodratnya. Menurut Ki Hadjar Dewantara, bahwa maksud pendidikan
itu adalah kegiatan menuntun segala kekuatan kodrat yang pada anak-anak
agar mereka mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setingi-tingginya baik
sebagai manusia maupun anggota masyarakat. Siswa memiliki 2 kodrat alam dan
kodrat zamannya, sebagai pemimpin pembelajaran kita bisa mengelola aset sumber
daya murid dengan pola asah asih asuh dengan menuntun mereka agar bisa
melejitkan potensi siswa sehingga bisa mencapai kebahagiaan yang
setingi-tingginya. Modul 1.1 berfokus pada anak-anak, sehingga guru sebagai
petani, bisa menuntun kodrat anak agar bisa tumbuh sesuai kodratnya dengan
mengelola asset yang ada.
B. Modul
1.2 Nilai dan peran Guru Penggerak
Modul 1.2 tentang nilai
dan peran guru penggerak, juga membahas tentang sumber daya manusia yaitu dari
segi guru, dimana untuk bisa mengelola potensis siswa, maka seorang gru harus
memiliki kapasitas, komepetensi dan dasar nilai dalam mengelola asset yang ada.
Nilai-nilai mandiri, kolaboratif, reflektif, inovatif dan berpihak pada murid
harus dijadikan landasan dalam pengelolaan asset sekolah terutama untuk
mewujudka profil pelajar pancasila. Juga ada cara kerja bagaimana memkasimalkan
nilai-nilai karakter anak agar bis aberkembang dengan baik. Begitu juga dengan
peran sebagai guru penggerak yaitu pemimpin pembelajaran, pemimpin pengembangan
sekolah, pemimpin manajemen sekolah. Dalam modul ini juga dibahas bagaimana
pengembangan karakter pada anak, bagaimana karakter bertumbuh atau pengelolaan
sumber daya murid kita
C. Modul 1.3
Tentang Visi guru Penggerak
Modul ini berbicara
bagaimana mengelola asset atau sumber daya, pendekatan apa yang kita gunakan
untuk melakukan sebuah perubahan, bagaimana kita mencapai perubahan atau visi
yang kita inginkan sehingga modul 3.2 ini kembali memperkuat modul 1.3 tentang
pendekatan inkuiri Apresiatif model BAGJA dalam melakukan perubahan atau
pengembangan sekolah. Mellaui pendekatan IA, Model BAGJA maka sebagai pemimpin
pembelajaran kita bisa melakukan perubahan yang berbasis asset atau sumber daya
untuk menuju perubahan positif. BAGJA memiliki tahapan sebagai berikut:
D. Modul 1.4 Buaday
Positif
tentang budaya positif
yaitu berupa lingkungan yang mendukung perkembangan siswa, Sebagai petani, maka
kita akan memaksimalkan sumber daya lingkungan yang positif agar anak anak
bertumbuh sesuai kodratnya. Sebagai pemimpin pemelajaran adalah abgaiamana
mengelola budaya positif , mengelola lingkungan baik biotik maupun abiotic yang
mendukung perkembangan karakter baik pada siswa sehingga tujuan pendidikan
seperti yang diharapkan terwujud yaitu menjadikan siswa selamat dan bahagia
E. Modul 2.1 Tentang
pembelajaran berdiferensiasi
Dimana sebagai pemimpin
pembelajaran harus menyadari bahwa setiap anak mempunyai kodrat berbeda
sehingga dibutuhkan pembelajaran diferensiasi sebagai solusi untuk memenuhi
kebutuhan belajar siswa yang beragam tersebut. Untuk bisa melakukan perubahan
dalam kelas dengan menerapkan pembelajaran berdiferensiasi maka seorang
pemimpin pembelajaran harus bisa memetakan asset atau sumber daya dan juga
memanfaatkan asset atau sumber daya yang ada, baik itu sumber daya manusia
komponen biotik maupun sumber daya yang berupa komponen abiotik,
yaitu sarana prasarana dan keuangan untuk bisa menyusun dan mendesain
strategi pembelajaran berdiferensiasi yang sesuai dan tepat sehingga bisa
memenuhi kebutuhan belajar siswa
Setiap anak memiliki
kodrat yang berbeda baik dari segi minat, profil belajar, maupun kesiapannya
sehingga pembelajaran berdiferensiasi sebagai sebuah strategi untuk menuntun
anak sesuai kekuatan kodratnya.
F. Modul 2.2 Tentang
pembelajaran sosial emosional
Modul yang membahas cara
atau strategi sebagai pemimpin pembelajaran untuk menuntun anak-anak
untuk mewujudkan siswa yang selamat dan bahagia. Pendidikan
ataupun pembelajaran bukan semata mata berorientasi pada aspek kognitif tapi
bagaimana bisa mengembangkan kecerdasan sosial emosional pada diri anak agar
anak bahagia.Tehnik mindfulness bisa dijadikan strategi atau cara mengelola
sumber daya manusia yang kita miliki yaitu murid sehingga potensi kecerdasan
sosial emosional anak bisa berkembang optimal.
G. Modul 2.3
Coaching
Modul 2.3 tentang
coaching merupakan sebuah tehnik atau strategi seorang pemimpin pembelajaran
untuk menuntun, mendampingi anak, untuk menggali potensi anak dan
memaksimalkannya. Coaching memberikan kesempatan anak-anak berkembang dan
menggali proses berpikir pada diri anak sehingga metakognisinya meningkat dan
berpikir kritis dan mencapai potensi diri yang optimal.
H. Modul 3.1 Pengambilan
Keputusan sebagai pemimpin Pembelajaran
Dalam modul ini seorang
pemimpin pembelajaran, dituntut untuk bisa mengambil keputusan yang beretika
dengan menggunakan prinsip berpikir berbasis 4 paradigma, 3 resolusi berpikir
dan 9 langkah pengujian keputusan. Prinsip pengambilan Keputusan ini sangat
penting apalagi yang berkaitan dengan pengelolaan asset atau sumber daya
sekolah untuk kepentingan murid.
2. RENCANA TINDAKAN
Rancangan Tindakan untuk
Aksi Nyata
a. Latar belakang
(Apa yang mendasari Anda
membuat rancangan tindakan ini?)
Sumber daya atau
aset adalah hal yang sangat mendukung kemajuan sekolah, untuk itu saya sebagai
guru harus bisa memetakan aset sekolah , sehingga saya bisa memaksimalkan
pemanfaatan aset guna mendukung pembelajaran di kelas dan peningkatan kualitas
pendidikan
b. Tujuan
(Apa dampak pada murid
yang ingin dilihat dari rancangan tindakan ini?)
Pemetaan dan
pengelolaan asset atau sumber daya dilakukan untuk meningkatkan kualitas
pembelajaran di kelas dan peningkatan kualitas pendidikan secara umum
c. Tolok Ukur
(Bukti apa yang dapat
dijadikan indikator bahwa tindakan ini berjalan dengan baik?)
Evaluasi terhadap proses
pelaksanaan aksi nyata
d. Dukungan
yang dibutuhkan
(Apa saja bahan, alat,
atau pihak yang Anda butuhkan untuk menjalankan tindakan? Bagaimana Anda akan
mendapatkannya?
Untuk melaksanakan
aksi nyata diperlukan kolaborasi semua pihak di sekolah, sehingga saya
memerlukan bantuan pemangku kepentingan di sekolah
-kepala sekolah
-rekan sejawat
-Staf TU
-siswa
e. Linimasa
tindakan yang akan dilakukan
Untuk melaksanakan aksi
nyata saya menyusun prosedur BAGJA pada modul 1.2
- Buat
Pertanyaan atau define : Meminta murid untuk
menggali cita-cita dan harapan tentang kelas impian mereka dengan
menginventarisir potensi dan kekuatan: -Apa yang bisa kita lakukan untuk
membuat kelas lebih menyenangkan? – bagaimana mewujudkan kelas yang nyama
dan menyenanngkan
- Ambil
Pelajaran atau Discover: Mengidentifikasi hal-hal yang
diinginkan, contohnya: apa pengalaman menyenangkan yang pernah siswa
alami?
- Gali
Mimpi atau Dream: menanyakan ke siswa ,
menanyakan pendapat setiap angota kelas tentang pendapat dan perasaan
mereka tentang impian kelas yang nyaman dan menyenangkan, contohnya:
Seperti apa kelas yang menyenangkan ?bagaiaman perasaan kelas yang nayamn
dan menyenangkan
- Jabarkan
Rencana atau Design, membuat capaian yang realistis,
misalnya apa langkah-langkah untuk menyiapkan kelas yang nyaman dan
menyenangkan, Bagaimana pengaturan kelas agar tetap nyaman dan
menyennagkan
- Atur
Eksekusi atau Deliver: menyusun tim kerja,
misalnya siapa saja yang terlibat dan apa saja peran masing-masing
murid ?
GURU PENGGERAK TERGERAK, BERGERAK DAN MENGGERAKKAN
SALAM GURU PENGGERAK
Minggu, 20 Februari 2022
Demonstrasi Kontekstual Modul 3.1
Demonstrasi Kontekstual Modul 3.1
Pengambilan Keputusan Sebagai Pemimpin Pembelajaran
Jurnal Monolog
Belajar dan berbagi itulah kata-kata yang selalu saya jadikan pegangan didalam setiap mengikuti kegiatan pengembangan kompetensi yang saya ikuti. Artinya selain belajar untuk peningkatan kompetensi diri sendiri, saya juga melakukan sesi sharing atau berbagi apa yang sudah saya dapatkan baik kepada rekan-rekan guru di sekolah dan juga rekan-rekan guru di seluruh nusantara. Karena bagi saya dengan berbagi maka ilmu yang akan kita miliki akan semakin berkembang dan bertambah. Selain itu, kita juga dapat menginspirasi rekan-rekan yang lain untuk ikut melakukan apa yang telah kita lakukan. Adapun cara yang akan saya lakukan dalam mentransfer dan membagikan pengetahuan yang saya dapatkan dalam program guru penggerak ini yaitu:
- Saya akan
menyusun rencana program guru penggerak yang akan saya laksanakan di
sekolah.
- Saya akan
mengkomunikasikan dengan kepala sekolah untuk menyampaikan program yang
sudah saya susun tersebut.
- Saya akan
mensosialisasikan materi-materi program guru penggerak yang telah saya
dapatkan pada program guru penggerak ini di komunitas praktisi di
sekolah saya, sebagai kegiatan pengimbasan kepada rekan-rekan guru baik
melalui daring maupun luring seperti mesosialisasikan materi - materi guru
penggerak melalui blok saya, youtobe saya dan lain - lain
- Saya akan
mengajak teman sejawat saya di sekolah untuk berkolaborasi dalam
menerapkan prinsip-prinsip pengambilan keputusan yang efektif ini sesuai
apa yang sudah saya pelajari di modul 3.1 ketika saya berada dalam situasi
dilema etika maupun bujukan moral yang saya alami maka dalam mengambil
keputusan harus berdasarkan pada keempat paradigma dilema etika, ketiga
prinsip dilema etika, dan sembilan langkah pengambilan dan pengujian
keputusan.
- Apa langkah-langkah awal yang akan Anda lakukan untuk memulai mengambil keputusan berdasarkan pemimpin pembelajaran?
Sebagai seorang pemimpin
pembelajaran di sekolah dalam rangka mewujudkan merdeka belajar dengan pembelajaran
yang berpihak kepada murid, tentunya suatu waktu kita akan dihadapkan pada
situasi dilema untuk mengambil sebuah keputusan yang terbaik dan menguntungkan
semua pihak. Adapun langkah awal yang
akan saya lakukan sbb:
- Saya terlebih dahulu akan menganalisis dan
menentukan apakah masalah yang saya hadapi termasuk ke dalam dilema etika
atau bujukan moral
- Kemudian Memastikan bahwa dalam mengambil sebuah
keputusan sudah sesuai dan sejalan dengan visi dan misi
yang telah kita susun dan sepakati bersama.
- Setelah itu Saya menentukan paradigma apa yang ada pada
permasalah tersebut. Paradigma yang terjadi pada situasi dilema
etika bisa dikategorikan sebagai berikut yaitu Individu lawan
masyarakat (individual vs community), Rasa keadilan lawan rasa kasihan
(justice vs mercy), Kebenaran lawan kesetiaan (truth vs loyalty), Jangka
pendek lawan jangka panjang (short term vs long term).
- Selanjutnya Saya akan menentukan prinsip yang akan
digunakan dalam pengambilan keputusan, melalui 3 prinsip yang berlaku
Kemuadian Saya akan menguji
keputusan yang saya ambil melalui 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan
Sbb:
- Menentukan nilai-nilai yang bertentangan pada
permasalahan yg sedang di hadapi
- Menentukan siapa saja yang terlibat dalam situasi
tersebut
- Menentukan fakta-fakta yang relevan dalam situasi
tersebut
- Pengujian benar lawan salah dalam
situasi tersebut.
- Pengujian paradigma benar lawan benar
- Melakukan prinsip resolusi
- Investigasi opsi trilema
- Buat keputusan
- Lihat lagi keputusan dan refleksikan
- Mulai kapan Anda akan menerapkan langkah-langkah tersebut, hari ini, besok, minggu depan, hari apa? Catat rencana Anda, sehingga Anda tidak lupa.
- Siapa yang akan menjadi pendamping Anda, dalam menjalankan pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran? Seseorang yang akan menjadi teman diskusi Anda untuk menentukan apakah langkah-langkah yang Anda ambil telah tepat dan efektif.
Dalam menjalankan pengambilan
keputusan sebagai pemimpin pembelajaran, saya tentu tidak bisa sendiri, karena
saya juga masih belajar bagaimana menerapkan ilmu pengetahuan dan masih harus
terus berlatih dalam mengambil keputusan berdasarkan empat
paradigma dilema etika, tiga prinsip dilema etika, dan sembilan langkah
pengambilan dan pengujian keputusan. Oleh karena itu, saya membutuhkan rekan
sejawat yang juga sebagai teman diskusi untuk menganalisis dan
menentukan apakah langkah-langkah yang saya ambil telah tepat dan
efektif.
Menurut saya orang-orang yang bisa saya jadikan teman diskusi/pendamping dalam menjalankan pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran adalah rekan-rekan sejawat di sekolah, kepala sekolah, orang tua siswa, siswa, komite sekolah, atau bisa juga pengawas sekolah
Kamis, 17 Februari 2022
Koneksi Antara Materi Modul 3.1
Koneksi Antara Materi Modul 3.1
Dalam
Pandangan Ki Hajar Dewantara, Guru adalah “penuntun “ segala
kekuatan kodrat (kodrat alam & kodrat zaman) pada anak didik agar sebagai
anggota masyarakat dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan
setinggi-tingginya. Makna kata “Penuntun”, dapat dipahami sebagai “Pemimpin
Pembelajaran”, yang berpusat pada murid. Sebagai pemimpin pembelajaran,
seorang guru hendaknya mampu menggabungkan strategi pengajaran dan pembelajaran
dengan kearifan lokal dan filosofi Pratap
Triloka dari Ki Hajar Dewantara (1889-1959) yaitu “ Ing
ngarsa sung tuladha, Ing madya mangun karsa, Tutwuri handayani.” Disini
ada pergeseran paradigma di mana guru tidak lagi bertindak sebagai sumber utama
informasi dalam proses pembelajaran, tetapi lebih berperan
sebagai fasilitator dan mitra belajar bagi anak didik.
Untuk
mencapai interaksi timbal balik dan memerdekakan antara guru dan
siswa, maka guru perlu menciptakan lingkungan belajar yang lebih kondusif.
Pratap Triloka menekankan interaksi siswa-guru dan terdiri dari pemodelan
(bagi mereka yang di depan harus menjadi figur model), memotivasi (bagi mereka
di tengah harus memotivasi), dan mendorong (bagi mereka yang di belakang harus
mendorong) dalam keseluruhan proses pembelajaran yang dilakukan, termasuk
dalam pengambilan keputusan. Pengambilan keputusan yang dilakukan guru dalam
proses pembelajaran di kelas yang berpihak dan memerdekakan murid akan menjadi
pembelajaran yang positif bagi murid-murid untuk mualai berani mengambil keputusan-keputusan
yang sesuai dengan pilihannya sendiri tanpa paksaan dan campur tangan orang
lain. Diharapkan bahwa murid akan lebih nyaman untuk berkomunikasi dan
menentukan pilihan keputusan bersama dengan guru , dan para guru akan lebih
memperhatikan kepentingan muridnya.
2. Bagaimana nilai-nilai yang tertanam dalam diri kita,
berpengaruh kepada prinsip-prinsip yang kita ambil dalam pengambilan suatu
keputusan?
Nilai-nilai
diri sebagai seorang guru tentunya adalah nilai kebaikan, kejujuran, tanggung
jawab, disiplin, toleransi, gotong-royong dan masih banyak lagi lainnya. Adapun
nilai-nilai yang tertanam dalam diri adalah nilai-nilai yang paling kita hargai
dalam hidup dan sangat berpengaruh pada pembentukkan karakter , perilaku dan
membimbing keputusan kita. Sebagai Guru Penggerak, tentunya ada beberapa nilai
yang harus dipegang seperti nilai mandiri, reflektif, kolaboratif,
inovatif dan berpihak pada murid. Ketika kita
menghadapi situasi dilema etika (Benar Vs Benar) , akan ada nilai-nilai
kebajikan mendasari yang bertentangan seperti cinta dan kasih sayang,
kebenaran, keadilan, kebebasan, persatuan, toleransi, tanggung jawab dan
penghargaan akan hidup. Begitu juga jika kita berhadapan dengan situasi
bujukan moral (Benar Vs Salah). Untuk dapat mengambil keputusan diperlukan
nilai-nilai atau prinsip dan pendekatan sehingga keputusan tersebut merupakan
keputusan yang paling tepat dengan resiko yang paling minim bagi semua
pihak, terutama bagi kepentingan /keberpihakan pada anak didik kita.
Dalam
proses pengambilan keputusan yang bertanggung jawab, diperlukan kompetensi
sosial emosional seperti kesadaran diri (self awareness), pengelolaan
diri (self management), kesadaran sosial (social awareness) dan ketrampilan
berhubungan sosial (relationship skills). Diharapkan proses pengambilan
keputusan dalat dilakukan secara sadar penuh (mindfull), terutama sadar dengan
berbagai pilihan dan konsekuensi yang ada.
3. Bagaimana kegiatan terbimbing yang kita lakukan pada
materi pengambilan keputusan berkaitan dengan kegiatan ‘coaching’(bimbingan)
yang diberikan pendamping atau fasilitator dalam perjalanan proses pembelajaran
kita, terutama dalam pengujian pengambilan keputusan yang telah kita ambil.
Apakah pengambilan keputusan tersebut telah efektif, masihkah ada pertanyaan-pertanyaan
dalam diri kita atas pengambilan keputusan tersebut. Hal-hal ini tentunya bisa
dibantu oleh sesi ‘coaching’ yang telah dibahas pada modul 2 sebelumnya.
Pada
konteks pembelajaran yang berpihak pada murid, coaching menjadi
salah satu proses ‘menuntun’ kemerdekaan belajar murid dalam
pembelajaran di sekolah. Coaching menjadi proses yang sangat penting
dilakukan di sekolah terutama dengan diluncurkannya program merdeka belajar
oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia. Program ini dapat membuat
murid menjadi lebih merdeka dalam belajar untuk mengeksplorasi diri guna
mencapai tujuan pembelajaran dan memaksimalkan potensinya. Harapannya,
proses coaching dapat menjadi salah satu langkah tepat bagi guru
untuk membantu murid untuk memaksimalkan potensinya, termasuk dalam hal
pengambilan keputusan. Coaching merupakan proses untuk mengaktivasi kerja
otak murid. Pertanyaan-pertanyaan reflektif yang diberikan Coach dapat membuat
murid melakukan metakognisi untuk mengambil keputusan dengan memilih sendiri
alternatif/solusi dari permasalahan yang dihadapinya tanpa paksaan dan campur
tangan orang lain.
TIRTA merupakan model coaching yang dikembangkan dengan semangat
merdeka belajar. Model TIRTA menuntut guru untuk memiliki
keterampilan coaching. Hal ini penting mengingat
tujuan coaching, yaitu untuk melejitkan potensi murid agar menjadi
lebih merdeka. TIRTA adalah satu model coaching yang
diperkenalkan dalam Program Pendidikan Guru Penggerak saat ini. TIRTA
dikembangkan dari Model GROW . GROW adalah akronim dari Goal, Reality, Options dan Will.
Goal (Tujuan): coach perlu mengetahui apa tujuan yang
hendak dicapai coachee dari sesi coaching ini,
Reality (Hal-hal yang nyata): proses menggali
semua hal yang terjadi pada diri coachee,
Options (Pilihan): coach membantu coachee dalam
memilah dan memilih hasil pemikiran selama sesi yang nantinya akan
dijadikan sebuah rancangan aksi.
Will (Keinginan untuk maju):
komitmen coachee dalam membuat sebuah rencana aksi
dan menjalankannya.TIRTA akronim dari :
T : Tujuan
I : Identifikasi
R : Rencana aksi
TA: Tanggung jawab
4. Bagaimana pembahasan studi kasus yang fokus pada masalah
moral atau etika kembali kepada nilai-nilai yang dianut seorang pendidik.
Ketika
Guru berhadapan dengan kasus-kasus yang fokus pada masalah moral atau etika,
maka nilai-nilai diri yang dianut dan yang paling dihargai oleh seorang
pendidik akan sangat mempengaruhi dalam proses pengambilan keputusan.
Nilai-nilai yang dianut oleh Guru Penggerak seperti mandiri,
reflektif, kolaboratif, inovatif dan berpihak pada
murid , tentunya akan sangat mempengaruhi paradigma dan prinsip
pengambilan keputusan seorang Guru Penggerak . Pada dasarnya nilai dan peran
seorang pendidik dalam mewujudkan visi pendidikan yang berpusat pada murid akan
berperan penting disini. Pengambilan keputusan pada masalah moral atau etika
yang benar,tepat sasaran dan minim resiko bagi anak didik adalah tujuan utama.
Dengan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan , maka diharapkan dapat
diperoleh keputusan yang dapat mengakomodasi semua kepentingan dari pihak-pihak
yang terlibat dalam kasus tersebut. Namun tujuan utama pengambilan selalu pada
kepentingan dan keberpihakan pada anak didik .
5. Bagaimana pengambilan keputusan yang tepat, tentunya
berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman.
Pengambilan
keputusan yang tepat tekait kasus-kasus pada masalah moral atau etika hanya
dapat dicapai jika dilakukan melalui 9 langkah pengambilan dan pengujian
keputusan . Dapat dipastikan bahwa jika pengambilan keputusan dilakukan secara
akurat melalui proses analisis kasus yang cermat dan sesuai dengan 9 langkah
tersebut, maka keputusan tersebut diyakini akan mampu mengakomodasi semua
kepentingan dari pihak-pihak yang terlibat , maka hal tersebut akan berdampak
pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman.
6. Selanjutnya, apakah kesulitan-kesulitan di lingkungan
Anda yang sulit dilaksanakan untuk menjalankan pengambilan keputusan terhadap
kasus-kasus dilema etika ini? Apakah ini kembali ke masalah perubahan paradigma
di lingkungan Anda?
Kesulitan-kesulitan
yang dialami di lingkungan saya dalam mengambil keputusan :
Ø Kesulitan
/kendala yang bersumber pada diri pribadi pengambil keputusan
Ø Rasa
takut/trauma dari kegagalan mengambil keputusan di masa lalu
Ø Pemahaman
yang tidak tepat tentang informasi yang berkaitan dengan kasus yang ditangani
Ø Sering
timbulnya perbedaan pandangan diantara pihak-pihak yang terlibat dalam kasus
yang mempersulit tercapainya kesepakatan.
Kesulitan-kesulitan
diatas selalu kembali ke masalah perubahan paradigma di lingkungan.
7. Dan pada akhirnya, apakah pengaruh pengambilan keputusan
yang kita ambil ini dengan pengajaran yang memerdekakan murid-murid kita?
Pada
konteks merdeka belajar, proses pembelajaran yang dilakukan adalah yang
berpihak pada murid. Karena itu, pengambilan keputusan yang dilakukan guru
dalam proses pembelajaran hendaknya dapat “menuntun” dan memberikan ruang bagi
murid dalam proses pengajaran untuk merdeka mengemukakan pendapat dan
mengekspresikan ilmu -ilmu baru yang didapatnya. Dengan demikian murid-murid
dapat belajar mengambil keputusan yang sesuai dengan pilihannya sendiri tanpa
paksaan dan campur tangan orang lain.
8. Bagaimana seorang pemimpin pembelajaran dalam mengambil
keputusan dapat mempengaruhi kehidupan atau masa depan murid-muridnya?
Ketika
guru sebagai pemimpin pembelajaran melakukan pengambilan keputusan yang
memerdekakan dan berpihak pada murid , maka dapat dipastikan murid-muridnya
akan belajar menjadi oang-orang yang merdeka, kreatif , inovatif dalam
mengambil keputusan yang menentukan bagi masa depan mereka sendiri. Di masa
depan mereka akan tumbuh menjadi pribadi-pribadi yang matang, penuh
pertimbangan dan cermat dalam mengambil keputusan-keputusan penting bagi
kehidupan dan pekerjaannya.
9. Apakah kesimpulan akhir yang dapat Anda tarik dari
pembelajaran modul materi ini dan keterkaitannya dengan modul-modul sebelumnya.
Dalam
Filosofi pemikiran Ki Hajar Dewantara, Guru adalah “penuntun “ segala kekuatan
kodrat (kodrat alam & kodrat zaman) pada anak didik agar sebagai anggota
masyarakat dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya. Makna
kata “Penuntun”, dapat dipahami sebagai “Pemimpin Pembelajaran”, yang berpusat
pada murid. Sebagai pemimpin pembelajaran, seorang guru hendaknya mampu
menggabungkan strategi pengajaran dan pembelajaran dengan kearifan lokal
dan filosofi Pratap Triloka dari Ki Hajar Dewantara (1889-1959) yaitu “ Ing
ngarsa sung tuladha, Ing madya mangun karsa, Tutwuri handayani.” Disini ada
pergeseran paradigma di mana guru tidak lagi bertindak sebagai sumber utama
informasi dalam proses pembelajaran, tetapi lebih berperan sebagai fasilitator
dan mitra belajar bagi anak didik, termasuk dalam hal pengambilan keputusan.
Pengambilan
Keputusan adalah memilih salah satu alternatif dari alternatif yang
ada. Dalam pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran, tentunya
nilai-nilai diri yang tertanam dalam diri guru akan sangat berpengaruh dalam
pengambilan keputusan. Sebagai Guru Penggerak ada nilai-nilai yang harus
dipegang teguh seperti nilai mandiri, kreatif, inovatif, kolaboratif dan
berpihak pada murid, Nilai-nilai tersebut akan dapat menuntun seorang guru
dalam mengambil keputusan nantinya. Kolaborasi/kemitraan antara guru dan murid
serta pihak-pihak yang terkait dalam proses tumbuh kembangnya anak didik sangat
penting dalam proses pengambilan keputusan. Hal ini akan menjamin kepastian
bahwa keputusan yang diambil dapat mengakomodasi kepentingan dari semua pihak
yang terlibat.
Sebagai
seorang guru kita sering dihadapkan pada 2 situasi yaitu situasi dilema etika
dan situasi bujukan moral. Perbedaan antara dilema etika dan bujukan moral
adalah kalau dilema etika (Benar Vs Benar) yaitu situasi yang terjadi jika
seseorang harus memilih diantara 2 pilihan, dimana 2 pilihan tersebut secara
moral benar tetapi bertentangan, sedangkan bujukan moral (Benar Vs Salah)
adalah situasi yang terjadi jika seseorang harus membuat keputusan antara benar
atau salah. Karena etika itu bersifat relatif dan bergantung pada kondisi dan
situasi, serta tidak ada aturan baku yang berlaku, maka dalam konteks merdeka
belajar, proses coaching akan sangat membantu guru. Melalui proses coaching
model TIRTA, Guru dapat membimbing murid untuk memaksimalkan potensinya dalam
memilih alternatif/opsi keputusan yang tepat bagi dirinya dan masa depannya .
Ketika
guru dan murid menghadapi situasi dilema etika, maka akan ada nilai-nilai
kebajikan mendasari yang bertentangan seperti cinta dan kasih sayang, kebenaran,
keadilan, kebebasan, persatuan, toleransi, tanggung jawab dan penghargaan
akan hidup. Secara umum ada 4 paradigma yang terjadi pada situasi dilema etika
yaitu :
1. Individu lawan masyarakat (individual
vs community)
Dalam
paradigma ini ada pertentangan antara individu yang berdiri sendiri melawan
sebuah kelompok yang lebih besar di mana individu ini juga menjadi bagiannya.
Bisa juga konflik antara kepentingan pribadi melawan kepentingan orang lain,
atau kelompok kecil melawan kelompok besar. “Individu” di dalam paradigma ini
tidak selalu berarti “satu orang”. Ini juga dapat berarti kelompok kecil dalam
hubungannya dengan kelompok yang lebih besar. Seperti juga “kelompok” dalam
paradigma ini dapat berarti kelompok yang lebih besar lagi. Itu dapat berarti
kelompok masyarakat kota yang sesungguhnya, tapi juga bisa berarti kelompok
sekolah, sebuah kelompok keluarga, atau keluarga Anda.
Dilema
individu melawan masyarakat adalah bagaimana membuat pilihan antara apa yang
benar untuk satu orang atau kelompok kecil , dan apa yang benar untuk yang
lain, kelompok yang lebih besar. Guru kadang harus membuat pilihan seperti ini
di dalam kelas. Bila satu kelompok membutuhkan waktu yang lebih banyak pada
sebuah tugas, tapi kelompok yang lain sudah siap untuk ke pelajaran berikutnya,
apakah pilihan benar yang harus dibuat? Guru mungkin menghadapi dilema individu
lawan kelompok.
2. Rasa keadilan lawan rasa kasihan
(justice vs mercy)
Dalam
paradigma ini ada pilihan antara mengikuti aturan tertulis atau tidak mengikuti
aturan sepenuhnya. Pilihan yang ada adalah memilih antara keadilan dan
perlakuan yang sama bagi semua orang di satu sisi, dan membuat pengecualian
karena kemurahan hati dan kasih sayang, di sisi lain. Kadang memang benar untuk
memegang peraturan, tapi terkadang membuat pengecualian juga merupakan tindakan
yang benar. Pilihan untuk menuruti peraturan dapat dibuat berdasarkan rasa
hormat terhadap keadilan (atau sama rata). Pilihan untuk membengkokkan
peraturan dapat dibuat berdasarkan rasa kasihan (kebaikan) Misalnya ada
peraturan di rumah Anda harus ada di rumah pada saat makan malam. Misalnya
suatu hari Anda pulang ke rumah terlambat karena seorang teman membutuhkan
bantuan Anda. Ini dapat menunjukkan dilema keadilan lawan rasa kasihan,
terhadap orang tua Anda. Apakah ada konsekuensi dari melanggar peraturan
tentang pulang ke rumah tepat waktu untuk makan malam, atau haruskah
orang tua Anda membuat pengecualian?
3. Kebenaran lawan kesetiaan (truth
vs loyalty)
Kejujuran
dan kesetiaan seringkali menjadi nilai-nilai yang bertentangan dalam situasi
dilema etika. Kadang kita perlu untuk membuat pilihan antara berlaku
jujur dan berlaku setia (atau bertanggung jawab) kepada orang lain. Apakah kita
akan jujur menyampaikan informasi berdasarkan fakta atau kita menjunjung nilai
kesetiaan pada profesi, kelompok tertentu, atau komitmen yang telah
dibuat sebelumnya.
Pada
jaman perang, tentara yang tertangkap kadang harus memilih antara
mengatakan yang sebenarnya kepada pihak musuh atau tetap setia kepada teman tentara
yang lain. Hampir dari kita semua pernah mengalami harus memilih antara
mengatakan yang sebenarnya atau melindungi teman (saudara) yang dalam
masalah. Ini adalah salah satu contoh dari pilihan atas kebenaran melawan
kesetiaan.
4. Jangka pendek lawan jangka
panjang (short term vs long term)
Paradigma
ini paling sering terjadi dan mudah diamati. Kadang perlu untuk memilih
antara yang kelihatannya terbaik untuk saat ini dan yang terbaik untuk masa
yang akan datang. Paradigma ini bisa terjadi di level personal dan permasalahan
sehari-hari, atau pada level yang lebih luas, misalnya pada issue-issue dunia
secara global, misalnya lingkungan hidup dll. Orang tua kadang harus membuat
pilihan ini. Contohnya: Mereka harus memilih antara seberapa banyak uang untuk
digunakan sekarang dan seberapa banyak untuk ditabung nanti. Pernahkah Anda
harus memilih antara bersenang-senang atau melatih instrumen musik atau
berolahraga? Bila ya, Anda telah membuat pilihan antara jangka pendek melawan
jangka panjang.
Dalam proses
pengambilan keputusan yang bertanggung jawab, diperlukan kompetensi sosial
emosional seperti kesadaran diri (self awareness), pengelolaan diri (self
management), kesadaran sosial (social awareness) dan ketrampilan berhubungan
sosial (relationship skills). Diharapkan proses pengambilan keputusan dalat
dilakukan secara sadar penuh (mindfull), terutama sadar dengan berbagai pilihan
dan konsekuensi yang ada.
Untuk
dapat mengambil keputusan, diperlukan prinsip dan pendekatan sehingga keputusan
tersebut merupakan keputusan yang paling tepat dengan resiko yang paling minim.
Ada 3 prinsip yang seringkali membantu dalam menghadapi pilihan-pilihan
yang penuh tantangan, yang harus dihadapi pada dunia saat ini (Kidder, 2009,
hal 144), yaitu Berpikir Berbasis Hasil Akhir (Ends-Based Thinking), Berpikir
Berbasis Peraturan (Rule-Based Thinking) dan Berpikir Berbasis
Rasa Peduli (Care-Based Thinking). Nilai-nilai atau prinsip-prinsip
inilah yang mendasari pemikiran seseorang dalam mengambil suatu keputusan yang
mengandung unsur dilema etika. Disamping itu untuk memastikan keputusan yang
diambil itu benar dan tepat sasaran, maka perlu dilakukan 9 langkah pengambilan
dan pengujian keputusan pada setiap kasus yang kita hadapi sebagai pemimpin
pembelajaran, yaitu :
1) Mengidentifikasi
nilai-nilai yang saling bertentangan dalam situasi tersebut
2) Menentukan
siapa yang terlibat
3) Mengumpulkan
fakta-fakta yang relevan dalam kasus tersebut
4) Melakukan
Pengujian :
Ø Uji
Legal
Ø Uji
regulasi/standar
Ø Uji
Intuisi
Ø Uji
Halaman depan koran
Ø Uji
Panutan/idola
5) Melakukan
Pengujian Paradigma Benar Vs Salah
6) Menetapkan
Prinsip Pengambilan Keputusan
7) Investigasi
Opsi Trilema
8) Membuat
Keputusan
9) Lihat
kembali keputusan dan melakukan refleksi
Demikian
koneksi antar materi yang saya buat tentang modul 3.1. Pengambilan Keputusan sebagai Pemimpin
Pembelajaran, semoga bermanfaat.
ASYIKNYA BERLITERASI DAN NUMERASI DENGAN GELIDA ( GERAKAN LITERASI DIGITAL ANGGREK 12 KOBI )
ASYIKNYA BERLITERASI DAN NUMERASI DENGAN GELIDA ( GERAKAN LITERASI DIGITAL ANGGREK 12 KOBI ) Pembelajaran merupakan kegiatan utama dari ...
-
REFLEKSI MINGGU KE 8 Oleh Nurhayati, S.Pd CGP Angkatan ke 3 Fasilitator : Henik Umi Koyum, S.Pd.M.Pd Pengajar Praktek : Gunawan, S.Pd As...